Bondowoso, harianmerdeka.co.id – Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Perhubungan (Dishub) memfokuskan langkah strategis untuk mendukung rencana reaktivasi jalur kereta api lintas Kalisat–Bondowoso–Panarukan.
Upaya tersebut bertumpu pada dua pilar utama, yakni penguatan koordinasi lintas daerah di kawasan Tapal Kuda serta sosialisasi intensif kepada masyarakat yang menempati lahan di sepanjang jalur rel.
Kepala Dishub Bondowoso, Drs. Sigit Purnomo, M.M., menegaskan bahwa reaktivasi jalur kereta api tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan keselarasan kebijakan antara Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Situbondo, dan Jember agar proyek berjalan lancar, baik dari sisi administratif maupun teknis.
“Reaktivasi ini harus satu visi. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Koordinasi lintas wilayah menjadi kunci agar pengembangan transportasi berbasis rel di kawasan Tapal Kuda benar-benar terintegrasi,” ujarnya, 17 Februari 2026.
Dishub Bondowoso terus membangun komunikasi intensif dengan pemerintah daerah tetangga. Kolaborasi ini mencakup sinkronisasi tata ruang, kesiapan aset, hingga dukungan kebijakan daerah. Keselarasan tujuan dan kesiapan masing-masing wilayah dinilai menjadi faktor penentu keberhasilan program strategis tersebut.
Sosialisasi Lahan Aset Negara
Selain koordinasi antarwilayah, Dishub mulai melakukan sosialisasi kepada warga yang saat ini menempati lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Mayoritas masyarakat disebut telah memahami bahwa lahan tersebut merupakan aset negara yang selama ini disewa secara resmi dan sewaktu-waktu dapat difungsikan kembali sesuai kebutuhan.
Sosialisasi dilakukan secara persuasif agar masyarakat memahami rencana pemanfaatan aset ke depan. Pemerintah daerah berharap dukungan publik menjadi fondasi kuat sehingga tahapan teknis nantinya tidak menghadapi hambatan sosial.
Dukungan DPRD
Langkah strategis ini mendapat dukungan penuh dari DPRD Kabupaten Bondowoso. Komisi III DPRD menilai reaktivasi jalur kereta api merupakan kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya kepadatan lalu lintas di jalan nasional dan provinsi, terutama pada jam sibuk.
Ketua Komisi III DPRD Bondowoso, Sutriyono, menyampaikan bahwa kehadiran kembali moda transportasi kereta api akan menjadi solusi mobilitas masyarakat, terlebih dengan berkembangnya sektor pendidikan, termasuk keberadaan kampus Universitas Jember di Bondowoso.
“Ini bukan sekadar nostalgia sejarah transportasi. Reaktivasi kereta api adalah kebutuhan riil masyarakat. Di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur di Jember, Situbondo, hingga Banyuwangi, Bondowoso juga harus memiliki moda transportasi massal yang realistis dan berkelanjutan,” tegasnya.
Tantangan Pendanaan
Secara teknis, Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya (BTP) telah menyelesaikan tahap Survey Identification Design (SID). Namun, tantangan terbesar proyek ini berada pada aspek pendanaan. Reaktivasi jalur Kalisat–Bondowoso–Panarukan diperkirakan membutuhkan anggaran hingga ratusan miliar rupiah.
Pemerintah daerah mengakui realisasi fisik proyek kemungkinan belum dapat dilakukan dalam satu hingga dua tahun ke depan. Tahapan krusial seperti sosialisasi pengosongan lahan secara masif diperkirakan baru akan berlangsung pada 2029 atau 2030, sembari menunggu kepastian skema pendanaan dari pemerintah pusat maupun operator KAI.
Meski demikian, rencana reaktivasi jalur kereta api tersebut telah masuk dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Program Induk Perkeretaapian Nasional. Pemkab Bondowoso berkomitmen terus mendorong pemerintah pusat agar proyek ini segera masuk tahap pelaksanaan teknis.
Reaktivasi jalur kereta api diyakini akan menjadi katalisator baru bagi pertumbuhan ekonomi, memperkuat konektivitas antarwilayah, serta membuka peluang investasi dan pengembangan kawasan di Bondowoso.
Reaktivasi jalur Kalisat–Bondowoso–Panarukan bukan sekadar menghadirkan kembali moda transportasi lama, melainkan langkah strategis membangun konektivitas masa depan.
Dengan kepadatan lalu lintas yang kian meningkat serta geliat ekonomi dan pendidikan yang terus berkembang, transportasi massal berbasis rel menjadi kebutuhan rasional.
Kunci keberhasilan proyek ini terletak pada konsistensi koordinasi lintas daerah, kejelasan skema pendanaan, serta pendekatan humanis kepada masyarakat terdampak.
Jika seluruh elemen berjalan selaras, bukan tidak mungkin kereta api kembali menjadi tulang punggung mobilitas dan penggerak ekonomi baru bagi Bondowoso dan kawasan Tapal Kuda.
Sumber : Kominfo Bondowoso












