Bondowoso, harianmerdeka.co.id — Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah kembali menjadi momentum berbagi dan menebar keberkahan bagi Pondok Pesantren Al‑Ishlah yang berlokasi di Desa Dadapan, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowoso. Melalui program sosial tahunan, pesantren tersebut kembali menyalurkan zakat mal kepada ribuan masyarakat dari berbagai daerah.
Pada Ramadan tahun ini, jumlah penerima zakat (mustahik) mengalami peningkatan signifikan. Jika pada tahun sebelumnya tercatat sebanyak 2.223 orang, maka pada tahun 2026 jumlah penerima meningkat menjadi 4.305 orang. Para mustahik tersebut berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Bondowoso, sebagian dari Kabupaten Jember, serta beberapa daerah lain di Indonesia.
Menariknya, sebagian dana zakat mal juga berasal dari kaum muslimin dan muslimat yang berdomisili di luar negeri, seperti di Jakarta dan Singapura, yang turut menyalurkan zakatnya melalui pesantren tersebut.
Pengasuh Pondok Pesantren Al‑Ishlah, KH Thoha Yusuf Zakariya, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah penerima zakat ini mencerminkan meningkatnya kesadaran para muzakki untuk menunaikan kewajiban zakat mal, sekaligus menunjukkan bertambahnya potensi dana zakat dari masyarakat.
“Alhamdulillah, tahun ini penerima zakat bertambah cukup signifikan. Tahun lalu sekitar dua ribuan, sekarang mencapai 4.305 orang. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan umat semakin besar dan penghasilan para muzakki juga semakin baik,” ungkapnya.
Ia menambahkan, nominal zakat yang disalurkan kepada para mustahik bervariasi, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penerima. Hal tersebut merupakan bagian dari strategi pengelolaan zakat yang fleksibel dan berkeadilan.
“Kami selalu menawarkan kepada para muzakki, apakah ingin memperbanyak jumlah penerima atau memperbesar nominal bantuan. Sebagian memilih agar zakat dibagikan kepada lebih banyak orang, tetapi kami juga mendorong agar ada porsi dana yang lebih besar untuk dikelola secara produktif,” jelasnya.
Menurutnya, zakat produktif menjadi salah satu fokus utama pesantren dalam beberapa tahun terakhir. Melalui skema tersebut, zakat tidak hanya digunakan untuk kebutuhan konsumtif jangka pendek, tetapi juga dimanfaatkan sebagai modal usaha berkelanjutan bagi para mustahik.
Sebagai contoh, penerima zakat produktif dapat memperoleh bantuan berupa ternak ayam atau kambing. Misalnya, seseorang diberikan 10 ekor ayam betina dan seekor ayam jantan.
Setelah berkembang biak, jumlahnya bisa meningkat hingga ratusan ekor, yang kemudian hasilnya dapat dimanfaatkan untuk membeli kambing dan mengembangkan usaha lebih lanjut.
“Harapan kami, para mustahik ini suatu saat tidak lagi menjadi penerima zakat, tetapi justru berubah menjadi muzakki. Ini memang tidak instan, tetapi jika dikelola dengan baik, insyaallah pada tahun-tahun berikutnya dapat terwujud,” katanya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa tujuan utama dari program zakat produktif tersebut adalah membantu mengurangi angka kemiskinan, khususnya di wilayah Bondowoso dan sekitarnya.
“Kalau hanya berpikir jangka pendek, zakat akan habis. Namun jika dikelola dalam jangka panjang, zakat bisa menjadi solusi ekonomi umat. Kami ingin para penerima juga merasakan manfaat dari Allah SWT melalui perantara Pondok Pesantren Al-Ishlah,” pungkasnya.
Program penyaluran zakat ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Banyak penerima mengaku sangat terbantu, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Al‑Ishlah kembali menegaskan perannya tidak hanya sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat.
Tradisi berbagi di bulan Ramadan pun diharapkan terus berlanjut dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan umat.
Penulis : Redaksi






