Berita  

Tak Ada Nyawa Seharga Berita, Jurnalis Bondowoso Gelar Doa Bersama untuk Lima Rekan yang Hilang Saat Liputan Anak Krakatau

Forum Solidaritas Jurnalis Bondowoso Saat Gelar Doa Bersama Untuk Para Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Erupsi Anak Krakatau
Forum Solidaritas Jurnalis Bondowoso Saat Gelar Doa Bersama Untuk Para Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Erupsi Anak Krakatau

BONDOWOSO, HARIANMERDEKA.CO.ID – Solidaritas terhadap sesama pekerja media mengalir dari Bondowoso. Sejumlah jurnalis menggelar doa bersama untuk lima jurnalis yang dilaporkan hilang saat menjalankan tugas peliputan di sekitar kawasan Anak Krakatau, Selat Sunda.

Doa bersama tersebut menjadi bentuk empati sekaligus dukungan moral bagi para jurnalis yang hingga kini masih dalam pencarian tim SAR gabungan. Di tengah ketidakpastian kabar, para jurnalis Bondowoso berharap operasi pencarian membuahkan hasil dan seluruh korban dapat segera ditemukan.

Para jurnalis berdiri dalam satu barisan solidaritas. Bagi mereka, profesi jurnalistik bukan sekadar mengejar informasi dan memenuhi kebutuhan publik terhadap berita, tetapi juga memiliki risiko yang terkadang harus dihadapi di lapangan.

Koordinator aksi, Nanang Ervandi, menegaskan bahwa solidaritas sesama pekerja media tidak mengenal batas wilayah maupun organisasi.

Menurutnya, ketika seorang jurnalis menghadapi situasi berbahaya saat menjalankan tugas, seluruh insan pers memiliki kewajiban moral untuk memberikan dukungan.

READ  Niatus Sholihah, Difabel Asal Bondowoso yang Pernah Dibuang Orang Tua, Kini Diajak Raffi Ahmad Jadi Stafsus Kepresidenan

«“Tidak ada berita seharga nyawa. Keberadaan setiap pekerja media di medan bahaya adalah wujud dedikasi tertinggi bagi ruang publik,” ujar Nanang, Minggu (13/9/2026).»

Nanang mengatakan, para jurnalis yang berada di lapangan pada dasarnya sedang menjalankan tugas untuk memenuhi hak masyarakat memperoleh informasi. Namun, tugas jurnalistik tidak boleh dimaknai sebagai pengorbanan yang mengabaikan keselamatan.

Berita penting, tetapi nyawa jauh lebih penting.

Karena itu, ia meminta seluruh pihak yang terlibat dalam operasi pencarian terus mengoptimalkan upaya penyelamatan dan pencarian terhadap para korban.

“Kami terus mendukung seluruh pihak terkait, khususnya tim SAR gabungan, agar pencarian dimaksimalkan tanpa lelah melalui jalur laut maupun udara,” katanya.

Menurut Nanang, doa bersama juga menjadi cara sederhana para jurnalis Bondowoso untuk menyampaikan pesan kepada keluarga korban bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masa penantian yang penuh kecemasan.

READ  Megah, Banyuwangi Ethno Carnival 2026 Hipnotis Delegasi Dunia Lewat Kisah Heroik Perang Bayu

“Doa dan keteguhan hati kami menyertai keluarga yang sedang menanti,” tambahnya.

Berdasarkan manifest perjalanan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, lima jurnalis yang berada dalam rombongan yakni M. Bagus Khoirunnas dari LKBN ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudhis dari iNews TV, Daus dari Anadolu Agency, serta Donal yang merupakan jurnalis freelance.

Selain lima jurnalis, terdapat tiga kru kapal yang turut dalam perjalanan tersebut, yakni Warta selaku nakhoda, Sukarman/Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), serta Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu atau guide.

Hingga kini, perhatian dan harapan masih tertuju pada operasi pencarian yang dilakukan tim SAR gabungan.

Bagi insan pers di Bondowoso, peristiwa tersebut menjadi pengingat keras bahwa di balik setiap berita yang sampai kepada masyarakat, terdapat kerja keras dan keberanian para jurnalis di lapangan.

READ  Ina Ammania Anggota Komisi VIII DPR RI F PDIP Hadiri Pelepasan Jamaah Haji Kloter I Embarkasi Surabaya

Namun, keberanian tidak seharusnya berarti mengabaikan keselamatan.

Sebab, sebaik apa pun sebuah berita, tidak akan pernah sebanding dengan satu nyawa manusia.

Editor : Redaksi

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *