BONDOWOSO, HARIANMERDEKA.CO,ID — Sebanyak 44 santri terbaik Kabupaten Bondowoso resmi dilepas untuk membawa nama daerah dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni Antar Madrasah Diniyah Takmiliyah (PORSADIN) VII Tingkat Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Lumajang.
Mereka bukan sekadar berangkat membawa target juara. Para santri juga membawa nama lembaga pendidikan diniyah, keluarga, dan Kabupaten Bondowoso dalam ajang yang mempertemukan santri terbaik dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Pelepasan kontingen berlangsung di Pendopo Raden Bagus Assra, Jumat (25/9/2026).
Sekretaris Daerah Kabupaten Bondowoso, Dr. H. Fathur Rozi, M.Fill, melepas langsung keberangkatan kontingen mewakili Bupati Bondowoso Dr. H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag. yang berhalangan hadir karena menjalankan agenda kedinasan di Surabaya.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Bondowoso, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Bondowoso, para pendamping serta seluruh peserta PORSADIN.
Bukan Sekadar Mengejar Piala
Menyampaikan amanat Bupati Bondowoso, Sekda Fathur Rozi berpesan agar seluruh peserta tidak menjadikan PORSADIN semata-mata sebagai arena mengejar kemenangan.
Menurutnya, keikutsertaan dalam kompetisi tingkat provinsi merupakan kesempatan bagi para santri untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membentuk mental dan karakter.
«“PORSADIN ini bukan semata-mata ajang untuk mengejar kemenangan, melainkan sebuah ruang pembelajaran berharga. Ini adalah wahana bagi para santri untuk mengasah kemampuan, menempa mental, memperkaya pengalaman, serta yang tak kalah penting adalah memperluas tali silaturahmi dengan sesama santri dari seluruh penjuru Jawa Timur,” ujar Fathur Rozi.»
Pesan serupa disampaikan terkait etika dan sportivitas selama pertandingan.
Para santri diminta mampu menerima setiap hasil dengan lapang dada. Prestasi memang penting, tetapi sikap dan akhlak selama berada di arena kompetisi juga menjadi bagian dari keberhasilan yang harus dijaga.
«“Jika berhasil meraih prestasi tertinggi, syukurilah dengan tetap rendah hati dan tidak berlebihan. Sebaliknya, apabila hasil yang diraih belum sesuai dengan target, jangan pernah berkecil hati,” pesannya.»
Menurutnya, keberhasilan seorang santri tidak hanya ditentukan oleh medali maupun piala yang berhasil dibawa pulang.
«“Keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari medali atau piala yang dibawa pulang, tetapi dari karakter, etika, dan akhlakul karimah yang ditunjukkan selama berada di arena kompetisi,” tegasnya.»
44 Santri Hasil Seleksi Berjenjang
Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, H. Mohammad Noer Fauzan, S.Ag., M.Pd.I., menjelaskan bahwa 44 santri yang diberangkatkan merupakan hasil seleksi berjenjang.
Proses seleksi dimulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat kabupaten. Peserta yang dinilai memiliki kemampuan terbaik kemudian dipercaya menjadi bagian dari kontingen Bondowoso untuk bertanding di tingkat Jawa Timur.
“Peserta yang dikirim merupakan hasil penyaringan dari tingkat kecamatan sampai kabupaten. Mereka adalah santri-santri terbaik yang kemudian mewakili Bondowoso di tingkat provinsi,” jelas Noer Fauzan.
PORSADIN VII Jawa Timur sendiri berlangsung pada 25-27 September 2026 di Kabupaten Lumajang.
Tahun ini terdapat 17 cabang olahraga dan seni yang diperlombakan. Selain menjadi ajang kompetisi, PORSADIN juga menjadi bagian dari proses seleksi untuk menentukan wakil Jawa Timur yang akan melangkah ke tingkat nasional.
Kontingen Bondowoso mengikuti sejumlah cabang, di antaranya tenis meja, bulu tangkis, lari 100 meter, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), kaligrafi, serta berbagai cabang seni dan keagamaan lainnya.
Membawa Nama Bondowoso
Usai pelepasan di Pendopo Raden Bagus Assra, seluruh kontingen langsung bertolak menuju Kabupaten Lumajang.
Setibanya di lokasi, para peserta dijadwalkan menjalani proses verifikasi dan registrasi ulang dokumen fisik sebelum mengikuti pembukaan resmi PORSADIN VII Jawa Timur.
Keberangkatan 44 santri tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam mendorong pengembangan potensi generasi muda berbasis pendidikan keagamaan.
PORSADIN diharapkan tidak hanya menjadi panggung untuk mengukur kemampuan olahraga dan seni para santri, tetapi juga menjadi ruang pembentukan mental, kedisiplinan, sportivitas, persaudaraan dan akhlakul karimah.
Target prestasi memang dibawa ke Lumajang. Namun di balik target tersebut terdapat misi yang lebih panjang: menunjukkan bahwa santri Bondowoso mampu bersaing, berprestasi, sekaligus tetap membawa nilai-nilai keagamaan dalam setiap langkah.
Kini, 44 santri tersebut telah bertolak ke medan kompetisi.
Mereka membawa satu nama yang sama: Bondowoso.
Dari Lumajang, doa dan dukungan masyarakat Bondowoso diharapkan mengiringi perjuangan mereka untuk memberikan prestasi terbaik, sekaligus menjaga nama baik daerah dengan sportivitas dan akhlak mulia.
Redaksi






