Berita  

KKN 215 UINSA Sulap Pekarangan Kumuh Jadi Asri Lewat Pupuk Organik Kotoran Sapi dan Gerakan 10.000 Bibit

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 215 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 215 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya

Bondowoso, harianmerdeka.co.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 215 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya kembali menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat di Desa Sumber Canting, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso. Kali ini, mereka mengubah pekarangan warga yang sebelumnya kumuh dan tidak terawat menjadi kawasan hijau yang produktif melalui pemanfaatan pupuk organik berbahan dasar kotoran sapi dan program “Gerakan 10.000 Bibit.”

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (15/7/2026) pukul 09.00 WIB di kebun milik Bapak Imam, Dusun Krajan, tidak hanya berfokus pada penanaman bibit, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara mengolah limbah peternakan menjadi pupuk organik yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan.

Program ini dinilai sangat relevan dengan kondisi Desa Sumber Canting yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani sekaligus peternak sapi. Selama ini, kotoran ternak sering kali hanya menjadi limbah yang kurang dimanfaatkan secara optimal. Padahal, apabila diolah dengan benar, limbah tersebut dapat menjadi pupuk organik berkualitas untuk meningkatkan kesuburan tanaman.

Dalam praktiknya, mahasiswa KKN 215 terlebih dahulu mengolah kotoran sapi dengan mencampurkannya bersama EM4 dan tetes tebu. Campuran tersebut kemudian difermentasi selama tujuh hari hingga menjadi pupuk organik siap pakai. Pupuk hasil fermentasi itulah yang selanjutnya digunakan sebagai media tanam berbagai bibit produktif.

Bibit yang ditanam pun bukan bibit instan. Sejak awal pelaksanaan KKN, mahasiswa telah menyemai sendiri bibit bawang, sawi, cabai, terong, kopi, dan jahe di polybag kecil. Setelah pertumbuhannya cukup kuat, bibit tersebut dipindahkan (transplanting) ke polybag yang lebih besar dengan media tanam berupa pupuk organik hasil fermentasi.

READ  Mie Gacoan di Bondowoso Dibuka, Bapenda Berharap Kooperatif Jadi Mitra Pemerintah Daerah

Puluhan polybag besar kemudian ditata rapi di pekarangan milik Bapak Imam yang sebelumnya dipenuhi semak dan tampak tidak terurus. Kini, area tersebut mulai berubah menjadi kebun kecil yang hijau, bersih, dan memiliki potensi menghasilkan berbagai komoditas pangan serta tanaman bernilai ekonomi.

Koordinator kegiatan KKN 215 UINSA, M. Akmal yang akrab disapa Bang Eybi, mengatakan bahwa program ini dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan selama masa KKN, melainkan sebagai gerakan yang dapat diteruskan oleh masyarakat secara mandiri.

“Kami ingin program pupuk organik dan penanaman bibit ini terus berjalan meskipun KKN sudah selesai. Makanya kami libatkan langsung pemilik pekarangan dan warga sekitar supaya nanti bisa dilanjutkan sendiri oleh tetangga-tetangga di sini,” ujarnya.

Menurutnya, konsep yang dibangun menggabungkan dua tujuan sekaligus, yaitu mengurangi limbah peternakan sekaligus meningkatkan produktivitas pekarangan rumah warga. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh lingkungan yang lebih bersih dan indah, tetapi juga memiliki peluang menanam kebutuhan pangan keluarga secara mandiri.

Agar program memiliki dampak jangka panjang, mahasiswa KKN 215 juga menggandeng aktivis lingkungan Desa Sumber Canting. Kehadiran mereka diharapkan mampu menjadi penggerak masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus.

READ  Hari Museum Internasional, Ketua SMSI Bondowoso Ajak Generasi Muda Cintai Sejarah Pers

Kolaborasi tersebut menjadi salah satu kekuatan utama program. Tidak hanya menghadirkan inovasi, tetapi juga membangun rasa memiliki dari masyarakat sehingga keberlanjutan kegiatan lebih terjamin.

Bapak Imam selaku pemilik pekarangan mengaku senang karena lahannya yang selama ini tidak dimanfaatkan kini berubah menjadi lebih rapi dan produktif.

“Dulu pekarangan ini cuma jadi lahan kosong yang tidak terawat. Sekarang setelah ditanami dan dikasih pupuk organik dari adik-adik KKN, saya senang bisa lihat pekarangan saya jadi lebih rapi dan bermanfaat,” ungkapnya.

Perubahan tersebut juga menarik perhatian warga sekitar. Beberapa masyarakat mulai berdiskusi mengenai cara membuat pupuk organik dari kotoran sapi karena bahan bakunya sangat mudah diperoleh di desa mereka. Antusiasme itu menjadi sinyal positif bahwa program tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, melainkan mulai menumbuhkan kesadaran baru mengenai pentingnya pengelolaan limbah secara berkelanjutan.

Selain mempercantik lingkungan, program Gerakan 10.000 Bibit juga mendukung upaya memperkuat ketahanan pangan rumah tangga. Berbagai tanaman seperti cabai, sawi, bawang, terong, jahe, hingga kopi memiliki nilai konsumsi sekaligus nilai jual yang dapat memberikan manfaat ekonomi apabila dikembangkan secara berkelanjutan.

Mahasiswa berharap semakin banyak warga memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah menjadi kebun produktif. Dengan memanfaatkan pupuk organik buatan sendiri, biaya produksi dapat ditekan, sementara limbah peternakan yang sebelumnya menjadi masalah justru berubah menjadi sumber manfaat.

READ  Kembali Pemkab Bondowoso Raih WTP Dari BPK RI

Melalui pendekatan sederhana yang memanfaatkan potensi lokal, KKN 215 UINSA menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari pekarangan rumah. Dari limbah ternak yang selama ini dipandang tidak bernilai, lahirlah pupuk organik yang menyuburkan tanaman. Dari lahan kosong yang kumuh, tumbuh harapan baru menuju desa yang lebih hijau, mandiri, dan produktif.

Program ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus mengembangkan pertanian berbasis lingkungan serta menjadikan pekarangan rumah sebagai sumber pangan dan ruang hijau yang memberi manfaat bagi keluarga maupun lingkungan sekitar.

Sumber : KKN UINSA 215

Penulis : Redaksi

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *