Pawai Hari Jadi Bondowoso, Momentum Mengembalikan Jati Diri Budaya Bondowoso

Topeng Kona Budaya Asli Kabupaten Bondowoso
Topeng Kona Budaya Asli Kabupaten Bondowoso

Bondowoso, harianmerdeka.co.id — Pawai Hari Jadi Bondowoso bukan sekadar parade untuk memeriahkan ulang tahun daerah. Di balik kemeriahan, barisan peserta, kostum, musik, dan ragam pertunjukan yang ditampilkan, ada pesan yang jauh lebih penting: mengingat kembali siapa kita dan dari mana kita berasal.

Hari Jadi Bondowoso ke-207 seharusnya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kebudayaan lokal yang perlahan tergerus oleh perubahan zaman. Sebab sebuah daerah tidak hanya dikenal dari pembangunan fisik, jalan yang mulus, gedung pemerintahan, atau pertumbuhan ekonominya. Bondowoso juga memiliki identitas yang dibangun dari sejarah, tradisi, kesenian, bahasa, kuliner, serta nilai-nilai masyarakatnya.

Pawai budaya menjadi salah satu ruang yang tepat untuk memperkenalkan kembali kekayaan tersebut kepada generasi muda. Anak-anak dan para pelajar tidak cukup hanya mengenal Bondowoso melalui buku pelajaran. Mereka perlu melihat, merasakan, bahkan terlibat langsung dalam kebudayaan daerahnya.

READ  ‎Hakim Dijual, Keadilan Dibeli: OTT KPK Bongkar Busuknya Peradilan di Depok

Di sinilah pawai Hari Jadi memiliki makna strategis. Jangan sampai kebudayaan hanya muncul ketika ada perayaan, lalu kembali dilupakan setelah panggung dibongkar.

Budaya harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pemerintah daerah bersama masyarakat perlu menjadikan momentum Harjabo bukan sebagai seremoni tahunan semata, tetapi sebagai gerakan kebudayaan. Kesenian tradisional perlu diberi ruang, pelaku budaya harus mendapatkan perhatian, dan generasi muda perlu dilibatkan secara aktif.

Lebih dari itu, pawai budaya harus mampu menampilkan wajah Bondowoso yang autentik. Jangan sampai budaya lokal hanya menjadi ornamen untuk meramaikan acara, sementara nilai, sejarah, dan makna di baliknya justru hilang.

Kita perlu bertanya: setelah pawai selesai, apa yang tersisa?

Jika yang tersisa hanya foto dan video di media sosial, maka kita belum sepenuhnya menangkap makna Hari Jadi. Tetapi jika setelah pawai anak-anak mulai mengenal kesenian daerah, masyarakat kembali bangga menggunakan dan menjaga budaya lokal, serta pemerintah semakin serius melindungi warisan budaya, maka Harjabo telah memberikan dampak yang jauh lebih besar.

READ  Kejari Bondowoso Terima Pengembalian Uang Korupsi 2 Milliar Proyek Rekonstruksi Jalan Bata - Tegal Jati

Bondowoso tidak kekurangan budaya. Yang sering kurang adalah ruang untuk menampilkannya dan kemauan untuk merawatnya.

Karena itu, Pawai Hari Jadi Bondowoso ke-207 semestinya kita baca sebagai ajakan untuk kembali kepada jati diri.

Kemajuan boleh berjalan secepat mungkin. Modernisasi tidak harus ditolak. Tetapi jangan sampai ketika Bondowoso semakin maju, kita justru kehilangan identitas yang membuat daerah ini berbeda dari daerah lain.

Sebab daerah yang besar bukan hanya daerah yang mampu membangun masa depan, tetapi juga daerah yang tidak melupakan masa lalunya.

READ  Sidang Isbat Penetapan 1 Ramadan 1447 H Digelar di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa 17 Februari 2026

Harjabo ke-207 bukan sekadar perayaan usia Bondowoso. Ia seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan budaya Bondowoso kepada tempat terhormat: bukan sekadar tontonan, melainkan identitas dan kebanggaan bersama.

Penulis : Redaksi

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *