Berita  

SPPG Bondowoso Grujugan Dadapan Jadi Dapur Percontohan Beras Fortifikasi untuk Program MBG

SPPG Bondowoso Grujugan Dadapan Jadi Dapur Percontohan Beras Fortifikasi untuk Program MBG
SPPG Bondowoso Grujugan Dadapan Jadi Dapur Percontohan Beras Fortifikasi untuk Program MBG

BONDOWOSO, HARIANMERDEKA.CO,ID – SPPG Bondowoso Grujugan Dadapan Yayasan Al Hidayah menjadi salah satu dapur yang mendapat perhatian dalam rencana penerapan beras fortifikasi pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Timur.

Pada Kamis (17/9/2026), tim World Food Programme (WFP) melakukan kunjungan langsung ke SPPG Bondowoso Grujugan Dadapan untuk mengambil data sekaligus melakukan wawancara dan survei terkait penggunaan beras yang selama ini menjadi bagian dari menu MBG.

Kunjungan tersebut berkaitan dengan rencana pilot project implementasi beras fortifikasi di tiga provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama WFP tengah menyiapkan Studi Analisis Pembiayaan Integrasi Beras Fortifikasi ke dalam Program MBG. Studi tersebut ditujukan untuk memperoleh data yang akurat dan komprehensif sebagai bahan penyusunan model pembiayaan beras fortifikasi yang efisien, aman dan berkelanjutan.

READ  Pemulihan Pascabanjir Terus Dikebut, Pemkab Bondowoso Fokus pada Titik Rawan dan Infrastruktur

Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan penelusuran secara langsung mengenai jenis beras, penggunaan, kebutuhan, hingga kondisi ketersediaan beras yang digunakan SPPG dalam memenuhi kebutuhan ribuan penerima manfaat MBG.

SPPG Bondowoso Grujugan Dadapan selama ini menggunakan beras Putri Koki produksi PT Samudera Pangan Indonesia, yang disebut mengandung tambahan zat gizi berupa Zinc dan Vitamin B6.

Penggunaan beras tersebut bahkan telah dilakukan sejak SPPG mulai beroperasi pada Agustus 2025.

Kepala Mitra Yayasan Al Hidayah, Slamet Gusti Purwanto, mengatakan pihaknya sejak awal memilih menggunakan beras premium sebagai bagian dari komitmen menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada penerima manfaat.

«“Dapur kami dari awal beroperasi, Agustus 2025, memang selalu menggunakan beras Putri Koki dengan kualitas premium. Kami menjadi dapur pertama di Bondowoso yang menggunakan beras tersebut,” ujar Slamet.»

Menurutnya, konsistensi penggunaan beras premium bukan tanpa tantangan. Bertambahnya jumlah SPPG di Bondowoso turut berdampak terhadap kebutuhan pasar, termasuk meningkatnya harga dan keterbatasan stok beras yang digunakan.

READ  PBAK FEBI UINSA 2026: 910 Mahasiswa Baru Jajal QRIS Cross Border Bersama Bank Indonesia

Meski demikian, pihaknya tetap berupaya mempertahankan kualitas bahan pangan yang digunakan dalam penyelenggaraan MBG.

«“Meski dengan banyaknya jumlah SPPG di Bondowoso, hal itu juga berdampak pada peningkatan harga dan kelangkaan stok beras tersebut. Namun kami tetap mengupayakan untuk selalu memberikan beras yang premium untuk penerima manfaat,” tegasnya.»

Kegiatan kunjungan WFP tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Regional SPPG Jawa Timur, Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Bondowoso, Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Situbondo, Koordinator Kecamatan Grujugan Bondowoso, serta Kepala Mitra dan staf Kantor SPPG Bondowoso Grujugan Dadapan.

Pengambilan data di lapangan ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata mengenai kebutuhan dan pembiayaan beras dalam pelaksanaan MBG. Data tersebut selanjutnya menjadi salah satu bahan penting dalam merumuskan skema integrasi beras fortifikasi ke dalam program nasional tersebut.

READ  Satgas PAD Bondowoso Intensifkan Monev Retribusi Parkir, Dorong Transparansi dan Dongkrak PAD 2026

Bagi SPPG Bondowoso Grujugan Dadapan, keterlibatan dalam kegiatan ini sekaligus menjadi catatan bahwa pemilihan bahan pangan dalam program MBG tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dan harga, tetapi juga menyangkut kualitas serta kandungan gizi yang diterima masyarakat.

Penulis : Redaksi

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *