JOMBANG, HARIANMERDEKA.CO.ID — Nama Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dikenal luas sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan ulama besar yang meletakkan fondasi Islam moderat di Indonesia. Namun, pengaruh beliau tidak hanya berhenti pada gagasan dan perjuangannya. Melalui para santrinya, pemikiran dan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin yang diajarkannya menggema hingga ke berbagai penjuru dunia.
Setidaknya terdapat 17 santri utama KH. M. Hasyim Asy’ari yang kiprah dan warisannya dinilai “menggemparkan dunia”, baik melalui peran keulamaan, perjuangan kemerdekaan, kepemimpinan nasional, hingga pengaruh intelektual di tingkat global.
Para santri tersebut bukan hanya tumbuh sebagai ulama pesantren, tetapi juga menjadi tokoh bangsa, pendiri organisasi besar, mufti internasional, hingga pemimpin negara. Mereka membawa ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat, toleran, dan berpijak pada tradisi keilmuan pesantren.
Beberapa di antaranya adalah tokoh-tokoh sentral dalam sejarah Indonesia, seperti KH. Wahid Hasyim, perumus dasar negara dan Menteri Agama RI; KH. Bisri Syansuri, Rais Aam PBNU yang dikenal sebagai faqih besar; KH. Wahab Chasbullah, penggerak NU dan diplomat ulama; serta KH. Idham Chalid, Wakil Perdana Menteri dan Ketua DPR/MPR RI.
Selain itu, terdapat pula santri-santri yang pengaruhnya melampaui batas nasional, menjadi rujukan keilmuan Islam di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Mereka dikenal sebagai penjaga sanad keilmuan Islam klasik sekaligus pembaru pemikiran keislaman yang kontekstual dengan zaman.
“KH. Hasyim Asy’ari bukan hanya mendidik santri untuk menjadi alim, tetapi membentuk mereka menjadi pemimpin umat dan bangsa,” demikian pandangan yang berkembang di kalangan sejarawan pesantren.
Ke-17 santri tersebut menjadi bukti bahwa pesantren Tebuireng bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat peradaban. Dari ruang-ruang ngaji sederhana, lahir tokoh-tokoh yang berperan besar dalam membentuk wajah Islam Indonesia yang damai dan berpengaruh di tingkat dunia.
Hingga kini, warisan keilmuan dan perjuangan para santri Hadratus Syaikh terus hidup melalui pesantren, organisasi keagamaan, lembaga negara, dan diplomasi budaya Islam Indonesia. Sebuah warisan besar yang menegaskan bahwa kekuatan ilmu dan akhlak mampu mengubah arah sejarah dunia.
Berikut 17 Santri Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari
- KH. Abdul Wahid Hasyim
Putra KH. Hasyim Asy’ari, Pahlawan Nasional, Menteri Agama RI, perumus dasar negara. - KH. Abdul Wahab Chasbullah
Pendiri Nahdlatul Ulama, ulama diplomat, penggerak kebangkitan ulama Nusantara. - KH. Bisri Syansuri
Rais Aam PBNU, pendiri Pesantren Denanyar Jombang, ahli fikih terkemuka. - KH. Idham Chalid
Ketua PBNU terlama, Wakil Perdana Menteri RI, Ketua DPR/MPR RI. - KH. Zainul Arifin
Komandan Laskar Hizbullah, Wakil Perdana Menteri RI. - KH. Ahmad Siddiq
Rais Aam PBNU, perumus konsep Islam Pancasila dalam NU. - KH. Achmad Sanusi
Ulama pejuang asal Sukabumi, tokoh perlawanan kolonial. - KH. Ali Maksum
Rais Aam PBNU, Pengasuh Pesantren Krapyak Yogyakarta. - KH. As’ad Syamsul Arifin
Pendiri Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. - KH. Abdul Halim Leuwimunding
Ulama besar Jawa Barat, pendiri Persatuan Umat Islam (PUI). - KH. Mahfudz Termas
Ulama Nusantara di Makkah, rujukan ulama dunia dalam ilmu hadis dan fikih. - KH. Manaf Abdul Karim
Ulama pesantren Jawa Timur, penggerak dakwah tradisional. - KH. Hasan Gipo
Tokoh NU awal, pendukung perjuangan kemerdekaan. - KH. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)
Ulama besar Minangkabau, ayah Buya Hamka, tokoh pembaru Islam. - KH. Mas Mansur
Tokoh pergerakan Islam, Ketua Muhammadiyah, Pahlawan Nasional. - KH. Abdul Kahar Muzakkir
Anggota BPUPKI, perumus dasar negara, rektor pertama UII. - KH. Saifuddin Zuhri
Menteri Agama RI, tokoh NU, penulis sejarah pesantren.(***)










