Berita  

UMKM Desa Sumber Canting Wringin Kabupaten Bondowoso Naik Kelas, KKN 215 UINSA Kenalkan AI untuk Pemasaran Produk

Bekali UMKM Desa Sumber Canting, KKN 215 UINSA Gandeng Wakil Ketua II DPRD dan Diskoperindag
Bekali UMKM Desa Sumber Canting, KKN 215 UINSA Gandeng Wakil Ketua II DPRD dan Diskoperindag

Bondowoso, harianmerdeka.co.id – Potensi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Sumber Canting, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso sebenarnya cukup menjanjikan. Beragam produk lokal seperti keripik, gula aren, kerupuk, hingga lempeng telah lama diproduksi masyarakat.

Namun, sebagian besar usaha tersebut masih kesulitan menembus pasar yang lebih luas akibat keterbatasan legalitas usaha dan minimnya pemahaman tentang strategi pemasaran.

Berangkat dari kondisi tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 215 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar workshop bertajuk “Strategi Pengembangan Pemasaran UMKM Lokal di Era Digital” di Balai Desa Sumber Canting, Rabu (8/7/2026).

Menariknya, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan akademisi, tetapi juga melibatkan unsur legislatif dan pemerintah daerah. Workshop dibuka oleh Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Bondowoso, Ady Kriesna, S.H., serta menghadirkan Konsultan PLUT Bidang Pemasaran UMKM dari Diskoperindag Kabupaten Bondowoso sebagai narasumber utama.

Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa pengembangan UMKM desa membutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari mahasiswa, pemerintah daerah hingga DPRD.

Koordinator KKN 215 UINSA mengatakan, penyelenggaraan workshop bukan sekadar menjalankan program kerja KKN. Tema yang diangkat merupakan hasil observasi langsung terhadap kondisi pelaku usaha di Desa Sumber Canting.

“Kami melihat produk-produk UMKM di sini sebenarnya punya potensi, tapi belum tergarap maksimal karena masih terkendala izin dan cara pemasarannya. Makanya kami hadirkan workshop ini supaya pelaku usaha bisa mengemas dan memasarkan produknya dengan lebih siap,” ujarnya.

READ  Bupati Bondowoso Hadir Dalam Acara Halal Bihalal Pemprov Jatim

Sebelum menentukan materi, mahasiswa KKN melakukan pendataan terhadap sejumlah pelaku UMKM. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar usaha masih mengandalkan penjualan dari mulut ke mulut atau bazar lokal. Padahal, kualitas produk dinilai cukup mampu bersaing jika didukung kemasan yang menarik dan strategi pemasaran yang tepat.

Karena itulah, workshop difokuskan pada tiga materi utama yang dinilai paling dibutuhkan pelaku usaha, yakni pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal, teknik pengemasan produk, serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk pemasaran digital.

Materi mengenai AI menjadi salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta. Para pelaku UMKM diperkenalkan cara memanfaatkan teknologi untuk membuat konten promosi, menyusun kalimat pemasaran, hingga mengoptimalkan media sosial agar produk mereka lebih dikenal masyarakat luas.

Bagi sebagian peserta, materi tersebut menjadi pengalaman baru karena selama ini mereka belum pernah memanfaatkan teknologi digital dalam memasarkan produknya.

Dalam sambutannya, Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Bondowoso, Ady Kriesna, menegaskan bahwa legalitas usaha merupakan langkah awal agar produk UMKM mampu masuk ke pasar yang lebih besar.

“Dalam pemasaran perlu adanya izin, baik NIB maupun sertifikasi halal. Pengemasan juga tidak kalah pentingnya agar produk UMKM kita bisa dibungkus rapi dan diterima oleh pasar yang lebih luas. Kami dari legislatif tentu mendukung penuh upaya pemberdayaan UMKM lokal seperti ini,” katanya.

READ  Raperda Perubahan APBD 2026 Disetujui, Anggaran Bondowoso Tembus Rp2 Triliun

Ia berharap kegiatan semacam ini terus dilakukan karena mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, terutama pelaku usaha di desa yang selama ini masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Sementara itu, Konsultan PLUT Bidang Pemasaran UMKM Diskoperindag Kabupaten Bondowoso memberikan pendampingan teknis mengenai tahapan memperoleh legalitas usaha, pentingnya identitas produk, hingga strategi pemasaran yang efektif melalui platform digital.

Mahasiswa KKN juga memfasilitasi proses pengurusan NIB dan sertifikasi halal bagi pelaku UMKM. Dengan kelengkapan dokumen tersebut, pelaku usaha diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk memasarkan produknya ke toko modern, marketplace, maupun jaringan pemasaran yang lebih luas.

Salah seorang pelaku UMKM mengaku memperoleh banyak wawasan baru setelah mengikuti kegiatan tersebut.

“Selama ini produk saya cuma dititipkan di bazar-bazar dekat sini saja karena belum tahu caranya memasarkan lebih luas. Setelah ikut workshop ini, saya jadi tahu pentingnya kemasan dan izin usaha untuk produk saya,” ungkapnya.

Respon positif peserta terlihat dari antusiasme selama sesi diskusi. Banyak pelaku usaha memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi mengenai desain kemasan, strategi promosi, hingga cara memperluas jaringan pemasaran melalui media sosial.

READ  Irwasda Polda Jatim Letakan Batu Pertama Pembangunan Mako Polres Pamekasan

Mahasiswa KKN 215 berharap workshop ini menjadi langkah awal dalam membangun UMKM Desa Sumber Canting yang lebih mandiri dan mampu bersaing di era digital. Dengan legalitas usaha yang lengkap, kemasan yang lebih menarik, serta kemampuan memanfaatkan teknologi AI untuk promosi, produk-produk lokal desa diyakini memiliki peluang besar menembus pasar di luar wilayah Bondowoso.

Program ini juga menunjukkan bahwa pelaksanaan KKN tidak hanya berfokus pada kegiatan sosial, tetapi mampu menjadi jembatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, legislatif, dan masyarakat.

Sinergi tersebut diharapkan terus berlanjut sehingga pemberdayaan UMKM desa tidak berhenti setelah masa KKN selesai, melainkan menjadi fondasi bagi tumbuhnya ekonomi lokal yang lebih kuat, inovatif, dan berdaya saing tinggi.

Penulis : Redaksi

Sumber Berita : KKN 215 UINSA

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *