Bondowoso, harianmerdeka.co.id – Kepedulian terhadap lingkungan perlu ditanamkan sejak usia dini. Berangkat dari semangat tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Kelompok 195 menggelar program Green School di empat Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso.
Program yang berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa (14/7/2026) hingga Kamis (16/7/2026), dilaksanakan di SD Negeri 1, SD Negeri 2, SD Negeri 3, dan SD Negeri 4 Tlogosari. Kegiatan ini menyasar seluruh siswa kelas IV, V, dan VI sebagai upaya membangun kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah dan penerapan gaya hidup ramah lingkungan.
Ketua Kelompok KKN 195 UIN Sunan Ampel Surabaya, Bahij Hisyam, mengatakan program Green School merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat yang berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.
“Melalui program Green School, kami ingin menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana. Kami berharap siswa terbiasa mengurangi penggunaan sampah nonorganik, membiasakan perilaku ramah lingkungan, serta menerapkan pengelolaan sampah yang benar, baik di sekolah maupun di rumah. Ketika kebiasaan ini terus dilakukan dan ditularkan kepada keluarga serta masyarakat, maka akan terbentuk ekosistem yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ujar Bahij.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah mulai dari proses pemilahan hingga pengolahannya. Siswa diperkenalkan pada tiga kategori sampah, yakni sampah organik, nonorganik, serta sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), berikut karakteristik dan cara penanganannya.
Materi disampaikan dengan metode yang interaktif agar mudah dipahami anak-anak. Selain pemaparan materi, mahasiswa juga mengajak siswa mengikuti permainan edukatif, diskusi, tanya jawab, serta praktik langsung memilah sampah sesuai jenisnya.
Pendekatan tersebut mendapat respons positif dari para siswa. Mereka terlihat antusias mengikuti setiap sesi, mulai dari menjawab pertanyaan hingga mempraktikkan cara memilah sampah ke dalam tempat yang telah disediakan.
Tak hanya mengenalkan pentingnya memilah sampah, mahasiswa KKN juga mengedukasi siswa mengenai pemanfaatan limbah agar memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah nonorganik dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk kreatif yang bernilai jual.
Menurut Bahij, pemahaman mengenai pengelolaan sampah harus dibarengi dengan perubahan perilaku. Oleh sebab itu, program Green School tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong lahirnya kebiasaan positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa mengajak siswa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa tumbler sebagai wadah minum serta membawa kotak makan sendiri saat membeli makanan di kantin sekolah. Langkah sederhana tersebut diharapkan mampu mengurangi volume sampah plastik yang selama ini menjadi salah satu persoalan lingkungan.
Selain itu, siswa juga dibiasakan untuk membuang sampah sesuai dengan kategorinya. Kebiasaan sederhana ini dinilai menjadi langkah awal dalam membangun budaya peduli lingkungan, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
Bahij menilai keberhasilan program Green School tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan selama tiga hari, tetapi juga dari sejauh mana kebiasaan tersebut dapat terus diterapkan setelah mahasiswa KKN menyelesaikan masa pengabdiannya.
Ia berharap sekolah dapat melanjutkan pembiasaan tersebut melalui berbagai kegiatan rutin, seperti penyediaan tempat sampah terpilah, kerja bakti, hingga kampanye pengurangan sampah plastik. Dukungan guru dan orang tua juga dinilai menjadi faktor penting dalam membentuk karakter peduli lingkungan pada anak.
“Anak-anak merupakan agen perubahan. Ketika mereka terbiasa menjaga kebersihan dan mengelola sampah dengan benar sejak dini, kebiasaan itu akan terbawa hingga dewasa dan dapat menular kepada keluarga maupun masyarakat di sekitarnya,” katanya.
Melalui program Green School, mahasiswa KKN UINSA berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan nyaman. Edukasi yang diberikan juga diharapkan menjadi bekal bagi siswa untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan di tengah meningkatnya persoalan sampah.
Sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan mahasiswa diyakini menjadi kunci keberhasilan dalam membangun budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan.
Dengan kolaborasi tersebut, gerakan sederhana yang dimulai dari lingkungan sekolah diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi terwujudnya lingkungan yang lebih hijau, bersih, dan berkelanjutan di Kabupaten Bondowoso.
Sumber : KKN UINSA 195
Penulis : Redaksi






