Ditjen PAUD Dikdas Raih Apresiasi IJTI 2026, Dinilai Berkontribusi dalam Transformasi Komunikasi Pendidikan

Gogot Suharwoto, S.Pd., M.Ed., Ph.D. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal
Gogot Suharwoto, S.Pd., M.Ed., Ph.D. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal

JAKARTA, HARIANMERDEKA.CO.ID — Upaya memperkuat komunikasi publik di bidang pendidikan melalui konten digital dan audiovisual mendapat apresiasi dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI).

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUD Dikdas PNFI) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, meraih Apresiasi IJTI 2026 sebagai Tokoh Transformasi Komunikasi Pendidikan dan Literasi Digital.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian Simposium Nasional dan Apresiasi IJTI 2026 yang digelar di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Tahun ini, kegiatan IJTI mengangkat tema “Jurnalisme Berkelanjutan di Era Disrupsi: Menjaga Integritas, Memperkuat Dampak Sosial.” Apresiasi IJTI merupakan penghargaan tingkat nasional yang diberikan IJTI kepada tokoh maupun pihak yang dinilai memberikan kontribusi dalam bidang komunikasi dan informasi publik.

Gogot mengatakan penghargaan tersebut bukan semata-mata capaian pribadi. Menurutnya, apresiasi itu merupakan buah dari kerja bersama seluruh jajaran Kemendikdasmen dalam menjalankan kebijakan pendidikan di bawah kepemimpinan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti.

“Komunikasi pendidikan bukan sekadar mengabarkan apa yang dikerjakan pemerintah, melainkan membantu masyarakat memahami tujuan, proses, dan manfaat sebuah kebijakan,” ujar Gogot.

READ  Kejari Bondowoso Ingatkan Para Kades, Rekomendasi Inspektorat dan BPK Segera Selesaikan

Mengubah Kebijakan Menjadi Cerita yang Mudah Dipahami

Dalam menjalankan komunikasi kebijakan, Ditjen PAUD Dikdas PNFI mengembangkan berbagai konten audiovisual untuk menghadirkan pengalaman nyata warga sekolah kepada masyarakat.

Salah satunya melalui serial video Jelajah Sekolah Indonesia yang mengangkat cerita dari satuan pendidikan di berbagai daerah. Konten tersebut tidak hanya menyampaikan informasi mengenai program pemerintah, tetapi juga memperlihatkan realitas pendidikan dari sudut pandang sekolah.

Dokumentasi audiovisual mengenai revitalisasi satuan pendidikan juga menjadi bagian dari strategi komunikasi. Kondisi sekolah, proses pelaksanaan program hingga pengalaman guru, murid dan masyarakat yang terlibat dikemas menjadi cerita yang lebih dekat dengan publik.

Hal serupa dilakukan dalam penyampaian informasi mengenai digitalisasi pembelajaran. Pemanfaatan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar ditampilkan melalui konten yang memperlihatkan praktik langsung di sekolah.

Pendekatan tersebut membuat informasi kebijakan pendidikan tidak berhenti pada angka, target maupun pengumuman program. Publik diajak melihat bagaimana kebijakan diterapkan dan dirasakan langsung oleh warga sekolah.

“Di balik angka dan kebijakan, ada pengalaman manusia yang juga penting untuk dihadirkan. Kami ingin masyarakat dapat melihat lebih dekat pengalaman warga sekolah dan memahami bagaimana kebijakan pendidikan dilaksanakan,” tutur Gogot.

READ  Ops Zebra Semeru 2024 Polres Bondowoso Gelar Police Goes To School

Tak Hanya Media Sosial

Transformasi komunikasi pendidikan yang dikembangkan Ditjen PAUD Dikdas PNFI juga dilakukan melalui berbagai kanal.

Selain konten audiovisual, informasi pendidikan diperkuat melalui publikasi buku “88 Cerita: Gotong Royong Revitalisasi Sekolah”, artikel, situs web serta berbagai kanal media sosial Ditjen PAUD Dikdas PNFI.

Buku tersebut menghimpun pengalaman satuan pendidikan dan masyarakat dalam pelaksanaan revitalisasi sekolah. Sementara kanal digital dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan informasi dan mendekatkan kebijakan pendidikan kepada masyarakat.

Dalam konteks digitalisasi pembelajaran, Gogot menegaskan bahwa teknologi tidak boleh dipandang hanya sebagai perangkat.

Menurutnya, penyediaan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan kemampuan guru dan murid dalam memanfaatkannya sehingga benar-benar mendukung proses belajar.

Pendidikan dan Jurnalisme Punya Titik Temu

Gogot juga menilai terdapat titik temu yang kuat antara dunia pendidikan dan jurnalisme, terutama dalam menghadirkan informasi yang dapat dipercaya, memberikan konteks dan mendorong masyarakat berpikir kritis.

Karena itu, ia berharap hubungan antara dunia pendidikan dan insan pers terus berkembang melalui kolaborasi yang sehat, tanpa mengabaikan peran serta independensi masing-masing.

READ  Polres Bondowoso Gelar Apel Pasukan Operasi Keselamatan Semeru 2026

Bagi Gogot, penghargaan IJTI 2026 bukan sekadar pengakuan terhadap kerja komunikasi pendidikan, tetapi juga pengingat bahwa kebijakan publik perlu disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami masyarakat.

“Penghargaan ini saya maknai sebagai apresiasi bagi seluruh rekan kerja dan insan pendidikan yang terus menghadirkan cerita, informasi, dan pengetahuan dari sekolah-sekolah di Indonesia. Setiap kebijakan perlu dijelaskan kepada publik, dan setiap suara dari sekolah layak didengar,” pungkasnya.

Redaksi

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *